blog-img
24/05/2025

Kegiatan P5 Smkt Ad-Dimyati

Admin | Pendidikan

Ada yang beda di halaman SMKT Ad-Dimyati hari itu. Suara tawa bersahut-sahutan, teriakan semangat menggema, dan halaman sekolah mendadak berubah jadi arena nostalgia yang hidup. Dalam rangka kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), para siswa diajak untuk menyelami dan merasakan langsung kekayaan budaya lokal lewat tema "Kearifan Lokal". Caranya? Bukan lewat ceramah atau buku teks tapi lewat kaulinan barudak! Mulai dari boy-boyan, sondah, egrang, rerebonan, perepet jengkol, sampai geblak panto, semuanya dimainkan dengan penuh semangat. Siswa-siswi yang biasanya sibuk dengan layar gadget, kali ini main langsung di lapang, teriak bareng, lari-larian, dan belajar kerja sama dengan cara yang fun dan menghibur. Bahkan guru-guru pun turut serta berbaur dalam permainan klasik ini.

Setiap permainan punya cerita dan makna. Misalnya boy-boyan yang melatih strategi dan kekompakan tim, egrang yang mengasah keseimbangan dan keberanian, atau rerebonan yang sederhana tapi sarat tawa. Yang jelas, bukan cuma badan yang digerakkan, tapi juga hati karena lewat kegiatan ini, para siswa diajak mengenal, mencintai, dan melestarikan budaya Sunda yang makin hari makin terpinggirkan. Lewat kegiatan P5 ini, SMKT Ad-Dimyati ingin menunjukkan bahwa belajar tak melulu harus di dalam kelas. Nilai-nilai Pancasila seperti gotong royong, kemandirian, dan cinta budaya bisa ditanamkan dengan cara yang menyenangkan. Dan terbukti, para siswa begitu antusias, semangat, dan bangga bisa menjadi bagian dari kegiatan yang membumi seperti ini.

Di akhir kegiatan, senyum puas dan badan lelah bercampur bahagia terlihat di wajah semua peserta. Banyak yang bilang, “Kapan-kapan main deui atuh, Bu, Pak!”  dan itu jadi bukti bahwa budaya lokal masih punya tempat di hati generasi muda, asal disampaikan dengan cara yang seru dan dekat dengan dunia mereka. P5 kali ini bukan sekadar main-main. Ini adalah langkah kecil tapi bermakna untuk kembali mencintai akar budaya sendiri. Karena urang Sunda bilang: “Leungit budaya, leungit jati diri.” Maka dari itu, hayu atuh urang sami-sami ngamumule budaya Sunda, dimulai dari kaulinan barudak, dimulai dari sekolah, dimulai dari kita!

Bagikan Ke:

Populer